twitter
rss




Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang bertujuan untuk mempersiapkan manusia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia. Hal tersebut sesuai dengan pendidikan nasional yang berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”,
(UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003).

Dibandingkan dengan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang tidak menekankan akan skill (kemampuan) peserta didik, penerapan kurikulum 2013 lebih menjanjikan daripada kurikulum sebelum-sebelumnya. Karena di dalam kurikulum 2013 kompetensi keterampilan sangat ditekankan. Berikut ini adalah perbedaan-perbedaan yang sangat mencolok antara prinsip Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Kurikulum 2013 :
  • Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu.
  • Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber.
  • Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah.
  • Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi
  • Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; mata pelajaran dalam pelaksanaan kurikulum 2013 menjadi komponen sistem yang terpadu. 
  • Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi.
  • Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif.
  • Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills)
  • Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan  dan pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat.
  • Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo),  membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani)
  • Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
  • Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
  • Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
  • Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.

             Dengan proses yang sangat berlawanan dalam K-13 serta KTSP, hasil yang dimunculkan pun tentu berbeda, dan hasil dari penerapan K-13 dirasa akan lebih optimal jika dilaksanakan.Kenapa pemerintah sepertinya terlalu tergesa-gesa dalam pengambilan keputusan, padahal kalau kurikulum ini berhasil dijalankan secara permanen maka output dari proses pendidikan akan lebih maksimal dibandingkan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Memang, perubahan paradigma pendidikan dari behavioristik ke konstruktivistik mendatangkan problem bagi pendidik dalam proses pembelajaran dan penilaian. Penilaian yang sangat mendetail dirasa para pendidik sangat menyulitkan. Karena hal ini masih baru (pertama kali) dilakukan, sehingga para pendidik membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dan memaksimalkan sistem penilaian dalam K-13. Penilaian dalam sistem kurikulum 2013 meliputi penilaian sikap (sosial dan spiritual), pengetahuan sekaligus ketrampilan siswa. Dengan hal tersebut, tentu penilaian yang autentik lebih baik daripada penilaian yang hanya diberikan pada sisi pengetahuan.
Seharusnya pemerintah lebih tanggap dengan hal-hal yang menyulitkan guru (pendidik) dan membantu mereka menyelesaikan masalah bukan malah menambah masalah baru. Dengan dihapuskannya kurikulum 2013, bukankah para pendidik akan semakin bingung ? Mereka sudah berusaha dengan keras menjalakan tugas-tugasnya, Eh, kemudian tanpa asalan yang jelas tiba-tiba akan dikembalikan ke kurikulum awal. Menurut penulis, sebaiknya kurikulum 2013 tetap dijalankan dan pemerintah diharapkan memberikan lebih banyak sosialisasi terhadap para pelaksana pendidikan khususnya guru dan kepala sekolah. Mengapa ? Karena, sayang sekali jika kurikulum 2013 dihentikan tanpa melihat lebih jauh hasil dari penerapan kurikulum ini. Toh, belum semua sekolah menggunakan kurikulum ini. Jadi, sekolah yang sudah menggunakan kurikulum 2013 diharapkan lebih optimal menjalankan kurikulum, agar hasil yang diharapkan pun dapat tercapai. Untuk sekolah yang masih menggunakan KTSP diharapkan perlahan-perlahan menggunakan Kurikulum 2013. Sehingga seluruh sekolah di Indonesia secara keseluruhan menggunakan kurikulum yang menekankan pada student centre ini daripada teacher centre agar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Sumber :
Kurikulum 2013 Sekolah Dasar Muhammadiyah Wibraga 3 Yk Tahun 2014/2015.
UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003.


0 komentar:

Posting Komentar