twitter
rss



(Oleh: -vitapbl-) 
Kenang-Kenangan KKN di Ds. Ngreco

Suatu malam di sebuah balai dusun, lima tokoh masyarakat tengah mengadakan pertemuan untuk membahas rencana pembangunan desa wisata. Mereka duduk membentuk setengah lingkaran, di tengah-tengah mereka sebuah meja dengan suguhan sederhana.


Pak Dukuh          : Assalamualaikum wr. wb.
Semua                  : Waalaikum salam wr. wb.
Pak Dukuh          : Selamat malam bapak-bapak sekalian.
Terimakasih atas kehadirannya pada malam hari ini untuk memenuhi undangan dari Dinas Pariwista kabupaten Bantul. Seperti yang tercantum dalam undangan, kita berkumpul disini untuk membahas tentang pengembangan desa wisata di wilayah kita ini. namun sebelumnya kita juga kedatangan tamu KKN yang akan membantu kita dalam rencana pembangunan desa wisata ini. (menunjuk KKN, KKN membungkuk)
KKN                       : Sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan diri, saya Paijo, selaku perwakilan dari KKN yang akan di tempatkan di desa ini. (Bapak-bapak angguk-angguk). Di sini kami ditugaskan oleh universitas untuk mellihat, atau mencari potensi-potensi apa saja yang ada di desa ini serta membantu pihak desa untuk membuat perencanaan tentang pengembangan potensi wisata di wilayah ini.
Pak Dukuh          : Baik, terimakasih Mas Pijo. Untuk potensi wisata, mungkin potensi wisata yang sudah beberapa orang ketahui adalah potensi wisata alam. Di desa kami ada beberapa tempat yang kami rasa layak untuk disuguhkan sebagai tempat wisata. Mungkin hal tersebut bisa dikembangkan. Nggeh mboten bapak-bapak.
Pak Lurah            : Bener kandhane pak Dukuh, potensi wisata alam di desa ini sudah cukup bagus, tapi saya juga mau menambahkan, selain potensi alam di sini juga ada beberapa kesenian yang dapat disuguhkan bagi para wisatawan. Seperti kita tahu, desa wisata kan bukan hanya menyuguhkan potensi alamnya saja, tetapi juga memberikan wisatawan suasana desa yang ramah dan nyaman.
Pak Dispar          : Saya setuju dengan Pak Lurah, dalam pengembangan desa wisata banyak aspek yang perlu dikembangkan, karena desa wisata adalah  sejenis tempat wisata yang menyuguhkan keindahan dan keramahan desa untuk wisatawan, dan itu menyangkut seluruh aspek kehidupan sehari-hari di desa tersebut.
Sesepuh Dusun                : Masuk pak (angkat tangan) niki kalih disambi nggeh pak.
Semua                  : nggeh pak (gak bareng)
Sesepuh Dusun                : Ehm, kalih dilanjutke nggeh. Jadi kalau ngendikane pak Dispar wau, desa wisata adalah wisata yang menyuguhkan keindahan dan keramahan desa menyakum seluruh aspek kehidupan sehari-hari, berarti yang perlu diperbaiki dari desa mriki banyak. Bukan hanya pembangunan fasilitas di kawasan wisata alam tapi menyeluruh di desa mriki.
Pak Lurah            : Ya memang begitu Pak.
Sesepuh Dusun                : Lha terus dananya dari mana pak?
Pak Dispar          : Untuk pembangunan fasilitas dan pengembangan potensi budaya, Dinas pariwisata dan Budaya telah memberikan dana bantuan untuk pengembangan desa.
Sesepuh Dusun                : Ooo ngoten to, tapi nek bantuan saking pemerintah niku bisane banyak potongane nggeh pak.
Pak Dispar          : Potongan nopo pak? Dinas tidak memungut potongan apapun.
Sesepuh Dusun                : Bukan dinas pak tapi, (bisik-bisik) potongan untuk kantong beberapa oknum.
Pak Lurah            : Ahhh, nggeh mboten pak. Semuanya untuk kepentingan masyarakat dan kepentingan bersama. (senyum awkward, dan semua jadi awkward, diam beberapa saat semua mata melihat ke pak Lurah)
KKN                       : Ehm, maaf pak. Bisa kita lanjutkan?
Sesepuh Dusun                : Ooooww tentu, monggo mas. (menunjuk dengan ibu jari)
KKN                       : Jadi begini, pambangunan desa wisata tidak sperti Bandung Bondowoso membangin cadi prambanan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Perlu waktu yang cukup lama baik untuk mengembangkan fasilitas fisik, mengembangkan kesenian budaya, maupun membangun mentalitas masyarakatnya untuk siap menjadikan diri mereka bagian dari desa wisata. Jadiii, menurut bpak-bapak sekalian, untuk merintis desa wisata aspek mana yang perlu kita perhatikan terlebih dahulu.
Pak Dukuh          : Untuk langkah awal perintisan pembangunan desa wisata ini, kami telah membentuk suatu kelompok masyarakat yang kami tuaskan untuk memrencanaan pembangunan dan pengembangan desa wisata ini. Kami juga sudah mulai membangun beberapa fasilitas di kawasan wisata.
KKN                       : (angguk-angguk, nyatet). Tapi mohon maaf pak, tapi pas saya lihat keana kemarin, kok kamarmandinya kurang terawat nggih.
Pak Dukuh          : Memang mas, maklum mas, anggota kelompok yang mengurusi kawasan wisata itu terbatas. Jadi kadang seperti itu.
Pak Dispar          : Lah terus pripun niku pak solusine. Wisatawan datang memang untuk meihat keindahan alam, tapi yang namanya wisata, mereka juga perlu kemudahan dan kenyamanan.
Sesepuh Dusun                : Ya itu tanggung jawab kelompok dan pemerintah pak, mungki pemerintah perlu menyediakan tambhan dana untuk membayar tenaga yang mengelola fasilitas di sana.
Pak Dukuh          : Mengke riyin pak, desa wisata itu milik kita bersama, jadi tanggung jawab kita bersama, seharusnya masyrakat juga ikut merasa memiliki dan menjaga fasilitas yang telah ada. Sejujurnya ksadaran akan fasilitas bersama di desa ini masih kurang mas Paijo, bukan hanya masalah fasilitas di kawasan wisata alam, namun di sekitar desa pun kurang terawat. Semisal, di selokan-selokan dan tepi jalan, masih banyak plastik-plastik, dan sampa berserakan. Pemerintah sudah berusaha membantu membangun fasilitas, namun jika masyarakat tidak merasa memiliki, bagaimana fasilitas itu bisa awt dan berfungsi maksima.
Sesepuh Dusun                : Memang kebanyakan masyarakat kita seperti itu pak, namun bagaimana cara menanamkan rasa memiliki, dan membangun mentalitas masyarakat itu juga tanggung jawab pemerintah. Bukan seutuhnya tanggung jawab pemerintah, ada tanggung jawab sejarah juga yang membentuk masyarakat kita menjadi seperti sekarang ini, tapi pemerintah sekarang ini juga pemerintah peninggalan sejarah, pemerintah yang memaksa masyarakatnya untuk tunduk dan patuh tanpa bole mempertanyakan apa yang mereka berhak tanyakan. Terdengar brlebihan memang, untuk era bebas macam sekarang, namun ketika mereka meragukan pemerintah mereka tidak dapt jawaban yang jelas, dan akhirnya mereka bersikap kurang-lebih apatis seperti ini.
Pak Lurah            : Jadi, menurut bapak, pemerintah yang harus bertanggung jawab atas semuanya termasuk membangun mentalitas masyarakat yang seharusnya lahir dari diri indifidu masing-masing?
Pak Dispar          : Mungkin bukan seperti itu pak, kalau boleh saya simpulkan apa yang dimaksudkan Pak Sesep adalah, ke-tidak-sadaran masyarakat terhadap fasilitas milik bersama adalah kurangnya pengertian terhadap fasilitas bersama itu sendiri. Di sini tugas pemerintah adalah memberikan pengertian terhadap masyarakat akan pentingnya menjaga fasilitas milik bersama. Bukan begitu pak Dukuh?
Pak Dukuh          : Bisa seperti itu pak, tapi saya ingin menambahkan, untuk memberi pengertian terhadap masyarakat, langkah paling awal adalah memberikan masyarakat kepercayaan terhadap pemerintah dengan cara menjalankan pemerintahan dengan transparan.
KKN                       : Jadi di sini kesimpulannya peran pemerintah dan masyrakat sama pentingnya untuk merawat dan menjaga fasilitas untuk kemajuan desa wisata ini. Pembentukan mentalitas dan kesadaran masyarakat juga merupakan hal yang sangat penting untuk membangun suatu kawasan desa wisata. Selain itu perbaikan sistem pemerintah dan transparansi kepemerintahan juga perlu ditingkatkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat.
Sesepuh Dusun                : Bisa dibilang seperti itu mas. Tapi peran pemuda di sini juga tak kalah penting, bukan hanya masalah fasilitas, tapi pemuda sebagai generasi penerus bangsa baik dalam masyarakat dan pemerintahan harus kritis. Jika ada pendapat atau keputusan bapak-bapak sepuh di sini yang salah bilang saja jangan Cuma jadi penonton, karena sepuluh-duapuluh tahun lagi kalian para pemuda yang akan duduk di kursi-kursi parlemen dan memimpin negeri ini. Banyak-banyak belajar, tapi jangan hanya meniru apa yang ada sekarang ini, ambil yang baik, buang yang buruk buang.
KKN                       : Iya pak. (mengangguk).
Pak Dukuh          : baik bapak-bapak kita tadi sudah sampai pada kesimpulan yang telah disampaikan Mas Paijo tadi, dan sedikit-banyak petuah yang disampaikan pak Sesep, jadi saya rasa rapat pada malam hari ini bisa kita akhiri nggeh?
Pak Dispar          : Nggeh Pak, saya juga masih ada acara setelah ini.
Pak Dukuh          : Baik kalau begitu rapat pada malam ini bisa kita akhiri, sekian dari saya, banyak kesalahan dan kesalah pahaman kami mohon maaf. wassalmualaikum wr. wb
Semua                  : waalaikumsalam wr.wb.
(Asisten dokter masuk)
Asisten                : Walah kalian disini to ternyata (geleng-geleng, lima orang itu langsung cengo lihat asisten dokter). Dokterrr...... Pasiennya ketemu mereka di sini (teriak)
Dokter                  : (masuk) Walah, dasar wong edan, kalian dicari kemana-mana malah disini.
(dokter dan asisten berusaha membawa mereka masuk tapi mereke berontak. )
Pak Lurah            : aku uduk wong edan aku ki pak lurah (sambil berontak dari asisten dokter).
KKN                       : (nyahut suntukan bu dokter) Saiki doktere aku, tak suntuk kalian semua ( semua chaos lari menyebar bubar...)

0 komentar:

Posting Komentar