(Oleh: -vitapbl-)
Kenang-Kenangan KKN di Ds. Ngreco
Suatu
malam di sebuah balai dusun, lima tokoh masyarakat tengah mengadakan pertemuan
untuk membahas rencana pembangunan desa wisata. Mereka duduk membentuk setengah
lingkaran, di tengah-tengah mereka sebuah meja dengan suguhan sederhana.
Pak Dukuh : Assalamualaikum wr. wb.
Semua :
Waalaikum salam wr. wb.
Pak Dukuh : Selamat
malam bapak-bapak sekalian.
Terimakasih atas kehadirannya pada malam
hari ini untuk memenuhi undangan dari Dinas Pariwista kabupaten Bantul. Seperti
yang tercantum dalam undangan, kita berkumpul disini untuk membahas tentang
pengembangan desa wisata di wilayah kita ini. namun sebelumnya kita juga
kedatangan tamu KKN yang akan membantu kita dalam rencana pembangunan desa
wisata ini. (menunjuk KKN, KKN
membungkuk)
KKN : Sebelumnya
perkenankan saya memperkenalkan diri, saya Paijo, selaku perwakilan dari KKN
yang akan di tempatkan di desa ini. (Bapak-bapak
angguk-angguk). Di sini kami ditugaskan oleh universitas untuk mellihat,
atau mencari potensi-potensi apa saja yang ada di desa ini serta membantu pihak
desa untuk membuat perencanaan tentang pengembangan potensi wisata di wilayah
ini.
Pak Dukuh : Baik, terimakasih Mas Pijo. Untuk potensi wisata, mungkin
potensi wisata yang sudah beberapa orang ketahui adalah potensi wisata alam. Di
desa kami ada beberapa tempat yang kami rasa layak untuk disuguhkan sebagai
tempat wisata. Mungkin hal tersebut bisa dikembangkan. Nggeh mboten
bapak-bapak.
Pak Lurah : Bener kandhane pak Dukuh, potensi wisata alam di desa
ini sudah cukup bagus, tapi saya juga mau menambahkan, selain potensi alam di
sini juga ada beberapa kesenian yang dapat disuguhkan bagi para wisatawan.
Seperti kita tahu, desa wisata kan bukan hanya menyuguhkan potensi alamnya
saja, tetapi juga memberikan wisatawan suasana desa yang ramah dan nyaman.
Pak Dispar : Saya setuju dengan Pak Lurah, dalam pengembangan desa
wisata banyak aspek yang perlu dikembangkan, karena desa wisata adalah sejenis tempat wisata yang menyuguhkan
keindahan dan keramahan desa untuk wisatawan, dan itu menyangkut seluruh aspek
kehidupan sehari-hari di desa tersebut.
Sesepuh Dusun : Masuk pak (angkat
tangan) niki kalih disambi nggeh pak.
Semua : nggeh pak (gak bareng)
Sesepuh Dusun : Ehm, kalih dilanjutke nggeh. Jadi kalau ngendikane
pak Dispar wau, desa wisata adalah wisata yang menyuguhkan keindahan dan
keramahan desa menyakum seluruh aspek kehidupan sehari-hari, berarti yang perlu
diperbaiki dari desa mriki banyak. Bukan hanya pembangunan fasilitas di kawasan
wisata alam tapi menyeluruh di desa mriki.
Pak Lurah : Ya memang begitu Pak.
Sesepuh Dusun : Lha terus dananya dari mana pak?
Pak Dispar : Untuk pembangunan fasilitas dan pengembangan potensi
budaya, Dinas pariwisata dan Budaya telah memberikan dana bantuan untuk
pengembangan desa.
Sesepuh Dusun : Ooo ngoten to, tapi nek bantuan saking pemerintah
niku bisane banyak potongane nggeh pak.
Pak Dispar : Potongan nopo pak? Dinas tidak memungut potongan apapun.
Sesepuh Dusun : Bukan dinas pak tapi, (bisik-bisik) potongan untuk kantong beberapa oknum.
Pak Lurah : Ahhh, nggeh mboten pak. Semuanya untuk kepentingan
masyarakat dan kepentingan bersama. (senyum
awkward, dan semua jadi awkward, diam beberapa saat semua mata melihat ke pak
Lurah)
KKN : Ehm, maaf
pak. Bisa kita lanjutkan?
Sesepuh Dusun : Ooooww tentu, monggo mas. (menunjuk dengan ibu jari)
KKN : Jadi begini,
pambangunan desa wisata tidak sperti Bandung Bondowoso membangin cadi prambanan
yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Perlu waktu yang cukup lama baik
untuk mengembangkan fasilitas fisik, mengembangkan kesenian budaya, maupun
membangun mentalitas masyarakatnya untuk siap menjadikan diri mereka bagian
dari desa wisata. Jadiii, menurut bpak-bapak sekalian, untuk merintis desa
wisata aspek mana yang perlu kita perhatikan terlebih dahulu.
Pak Dukuh : Untuk langkah awal perintisan pembangunan desa wisata
ini, kami telah membentuk suatu kelompok masyarakat yang kami tuaskan untuk
memrencanaan pembangunan dan pengembangan desa wisata ini. Kami juga sudah
mulai membangun beberapa fasilitas di kawasan wisata.
KKN : (angguk-angguk, nyatet). Tapi mohon maaf
pak, tapi pas saya lihat keana kemarin, kok kamarmandinya kurang terawat nggih.
Pak Dukuh : Memang mas, maklum mas, anggota kelompok yang mengurusi kawasan
wisata itu terbatas. Jadi kadang seperti itu.
Pak Dispar : Lah terus pripun niku pak solusine.
Wisatawan datang memang untuk meihat keindahan alam, tapi yang namanya wisata,
mereka juga perlu kemudahan dan kenyamanan.
Sesepuh Dusun : Ya itu tanggung jawab kelompok dan pemerintah pak,
mungki pemerintah perlu menyediakan tambhan dana untuk membayar tenaga yang
mengelola fasilitas di sana.
Pak Dukuh : Mengke riyin pak, desa wisata itu milik kita bersama,
jadi tanggung jawab kita bersama, seharusnya masyrakat juga ikut merasa
memiliki dan menjaga fasilitas yang telah ada. Sejujurnya ksadaran akan
fasilitas bersama di desa ini masih kurang mas Paijo, bukan hanya masalah fasilitas
di kawasan wisata alam, namun di sekitar desa pun kurang terawat. Semisal, di
selokan-selokan dan tepi jalan, masih banyak plastik-plastik, dan sampa
berserakan. Pemerintah sudah berusaha membantu membangun fasilitas, namun jika
masyarakat tidak merasa memiliki, bagaimana fasilitas itu bisa awt dan
berfungsi maksima.
Sesepuh Dusun : Memang kebanyakan masyarakat kita seperti itu pak,
namun bagaimana cara menanamkan rasa memiliki, dan membangun mentalitas
masyarakat itu juga tanggung jawab pemerintah. Bukan seutuhnya tanggung jawab
pemerintah, ada tanggung jawab sejarah juga yang membentuk masyarakat kita
menjadi seperti sekarang ini, tapi pemerintah sekarang ini juga pemerintah
peninggalan sejarah, pemerintah yang memaksa masyarakatnya untuk tunduk dan patuh
tanpa bole mempertanyakan apa yang mereka berhak tanyakan. Terdengar brlebihan
memang, untuk era bebas macam sekarang, namun ketika mereka meragukan
pemerintah mereka tidak dapt jawaban yang jelas, dan akhirnya mereka bersikap
kurang-lebih apatis seperti ini.
Pak Lurah : Jadi, menurut bapak, pemerintah yang harus bertanggung
jawab atas semuanya termasuk membangun mentalitas masyarakat yang seharusnya
lahir dari diri indifidu masing-masing?
Pak Dispar : Mungkin bukan seperti itu pak, kalau boleh saya simpulkan
apa yang dimaksudkan Pak Sesep adalah, ke-tidak-sadaran masyarakat terhadap
fasilitas milik bersama adalah kurangnya pengertian terhadap fasilitas bersama
itu sendiri. Di sini tugas pemerintah adalah memberikan pengertian terhadap
masyarakat akan pentingnya menjaga fasilitas milik bersama. Bukan begitu pak
Dukuh?
Pak Dukuh : Bisa seperti itu pak, tapi saya ingin menambahkan, untuk
memberi pengertian terhadap masyarakat, langkah paling awal adalah memberikan
masyarakat kepercayaan terhadap pemerintah dengan cara menjalankan pemerintahan
dengan transparan.
KKN : Jadi di sini
kesimpulannya peran pemerintah dan masyrakat sama pentingnya untuk merawat dan
menjaga fasilitas untuk kemajuan desa wisata ini. Pembentukan mentalitas dan
kesadaran masyarakat juga merupakan hal yang sangat penting untuk membangun
suatu kawasan desa wisata. Selain itu perbaikan sistem pemerintah dan
transparansi kepemerintahan juga perlu ditingkatkan sebagai salah satu faktor
yang mempengaruhi kesadaran masyarakat.
Sesepuh Dusun : Bisa dibilang seperti itu mas. Tapi peran pemuda di
sini juga tak kalah penting, bukan hanya masalah fasilitas, tapi pemuda sebagai
generasi penerus bangsa baik dalam masyarakat dan pemerintahan harus kritis.
Jika ada pendapat atau keputusan bapak-bapak sepuh di sini yang salah bilang
saja jangan Cuma jadi penonton, karena sepuluh-duapuluh tahun lagi kalian para
pemuda yang akan duduk di kursi-kursi parlemen dan memimpin negeri ini.
Banyak-banyak belajar, tapi jangan hanya meniru apa yang ada sekarang ini,
ambil yang baik, buang yang buruk buang.
KKN : Iya pak.
(mengangguk).
Pak Dukuh : baik bapak-bapak kita tadi sudah sampai pada kesimpulan
yang telah disampaikan Mas Paijo tadi, dan sedikit-banyak petuah yang
disampaikan pak Sesep, jadi saya rasa rapat pada malam hari ini bisa kita
akhiri nggeh?
Pak Dispar :
Nggeh Pak, saya juga masih ada acara setelah ini.
Pak Dukuh :
Baik kalau begitu rapat pada malam ini bisa kita akhiri, sekian dari saya,
banyak kesalahan dan kesalah pahaman kami mohon maaf. wassalmualaikum wr. wb
Semua : waalaikumsalam wr.wb.
(Asisten dokter masuk)
Asisten : Walah kalian disini
to ternyata (geleng-geleng, lima orang
itu langsung cengo lihat asisten dokter). Dokterrr...... Pasiennya ketemu
mereka di sini (teriak)
Dokter : (masuk) Walah, dasar wong edan, kalian
dicari kemana-mana malah disini.
(dokter dan asisten berusaha membawa mereka
masuk tapi mereke berontak. )
Pak Lurah :
aku uduk wong edan aku ki pak lurah (sambil
berontak dari asisten dokter).
KKN : (nyahut
suntukan bu dokter) Saiki doktere aku, tak suntuk kalian semua ( semua chaos lari menyebar bubar...)


